Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sejarah Perkembangan Atletik di Aceh

Sejarah Perkembangan Atletik di Aceh
Atletik meliputi jalan, lari, lempar dan lompat dapat dikatakan cabang olahraga paling tua, sama tuanya dengan manusia pertama di dunia. Sebab manusia pertama di dunia sudah lari, lompat dan lempar untuk mempertahankan hidupnya. 

Contohnya pada saat manusia sedang mencari makanan di hutan, tiba-tiba bertemu dengan binatang buas apa yang dilakukannya kalau tidak membawa senjata? tentu akan lari secepat-cepatnya untuk menghindari dari terkaman binatang buas itu. 

Dalam hal ini Sunaryo (1989) menyebutkan bahwa: “Bangsa-bangsa primitif pada zaman purba, mereka melakukan gerakan-gerakan jalan, lari, lompat dan lempar semata-mata untuk mempertahankan hidupnya yang berarti mempertahankan eksistensinya”.

Atletik sebagai cabang olahraga dalam bentuk perlombaan, sudah dikenal oleh bangsa Mesir Purba pada tahun 1500 SM, sedangkan bangsa Asyiria dan Babylonia Purba di Mesopotamia pada tahun 1000 SM. Adisasmita (1986:1.4) mengatakan : 

Pada tahun 776 SM bangsa Purba sudah mengadakan pesta olahraga secara teratur dalam waktu-waktu yang telah ditentukan. Pesta olahraga tersebut mula-mula tidak dimaksudkan sebagai olahraga, tetapi sebagai upacara peringatan yaitu memperingati orang-orang yang telah meninggal setelah empat tahun”.

Orang Yunani mempunyai kepercayaan bahwa roh orang-orang yang telah meninggal selalu mengembara kemana-mana ke tempat-tempat kediamannya, dimana ia pernah hidup. 

Roh-roh itu akan merasa gembira apabila melihat hal-hal yang menyenangkan hatinya ketika ia masih hidup. Oleh karena itu tiap-tiap empat tahun sekali bangsa Yunani mengadakan pesta untuk menghormati leluhur dan dewa-dewanya.

Dalam pesta tersebut, diadakan permainan-permainan gerak badan bagi orang Yunani disebut dengan Gymnastiek karena dilakukan dalam keadaan gymnos (telanjang). 

Dari gymnastiek itulah terjadi suatu pertandingan (athlon) yang sering disebut juga agonisstik (kepandaian bergumul). Permainan-permainan yang terkenal dalam pesta tersebut diantaranya permainan yang disebut penthahtlon (pertandingan), atau perlombaan ini merupakan pertandingan yang utama di dalam perlombaan nasional Yunani pada saat itu.

Menurut para ahli sejarah, atletik sudah dilakukan di negara Yunani pada abad ke 6 SM. Pendapat ini didasarkan pada lukisan-lukisan yang terdapat pada dinding gua pada zaman itu, dan tulisan-tulisan ahli filsafat yang bernama Xenophenes. (Adisasmita, 1986:1.4). 

Perkembangan atletik ini sangat erat hubungannya dengan pertandingan nasional Yunani yang mengalami zaman keemasan antara tahun 500-400 SM. 

Pada zaman itu munculnya dua orang Yunani yang dikenal dengan nama Iccus dan Herodicus yang merupakan peletak dasar dalil latihan yang teratur untuk atletik. 

Sesudah itu timbullah latihan-latihan yang mengkhususkan satu bahagian atau satu nomor saja, seperti lari cepat, melempar, dan melompat.

Menurut Abdullah (1985:37) bahwa : “Atletik di Indonesia termasuk olahraga yang masih muda, karena perkumpulan atletik baru muncul pada tanggal 21 Juli 1917, yang didirikan oleh orang-orang Belanda atau Indo-Belanda dengan nama NIAU (Nederlands Indische Athletiek Unie)”. 

Kemajuannya ternyata tidak berjalan lancar, perkembangannya hanya di kota-kota besar saja seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Semarang. Jadi hanya berkisar di pulau Jawa saja sedangkan di kota lain di luar pulau Jawa walaupun ada tetapi tidak berkembang dengan baik.

Pada waktu pendudukan Jepang, putra-putri Indonesia terutama pelajar yang cukup banyak melakukan kegiatan-kegiatan atletik. 

Di sekolah-sekolah terutama sekolah guru, disamping Taiso (senam ala jepang) dan Kyore (baris-berbaris) banyak juga diberikan pelajaran dan latihan atletik. Perlombaan-perlombaan atletik antar sekolah dan antar kota pun sering diadakan.

Berkaitan dengan masalah tersebut Suyono (1994:16) menyebutkan bahwa: “Pada tanggal 3 September 1950, wakil-wakil perhimpunan atletik dari berbagai daerah dikumpulkan di Semarang dan berhasil mendirikan Organisasi Atletik Seluruh Indonesia yang diberi nama Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI)”. 

Selanjutnya PASI-lah yang mengembangkan olahraga atletik di seluruh Indonesia sehingga dikenal oleh masyarakat. Seperti yang dikemukakan oleh Padey (1960:8) sebagai berikut :

Dengan lahirnya Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) dalam bulan September 1950 di Semarang, timbul lah usaha-usaha serta keinginan untuk mengembangkan dan mempertinggi mutu Atletik di negara ini, supaya dikemukakan hari atletik-atletik di negara kita dapat pula diperkenalkan kepada dunia olahraga Internasional. Keinginan akan maju untuk mencapai puncaknya ketika PASI telah menjadi anggota Internasional Amateur Athletiec Federation (IAAF), sehingga diperboleh turut serta dalam Asian Games di New Delhi (1954) dan Manila (1945) serta dalam Olympic Games di Helsinki (1942). 

Setelah PASI terbentuk dan diterima menjadi anggota IAAF (Internasional Amateur Athletiec Federation) di tingkat Internasional dan juga anggota AAA (Asia Amateur Athletiec) di tingkat Asia. 

Keanggotaan ini memungkinkan atletik-atletik Indonesia dapat ikut serta dalam kegiatan-kegiatan Internasional dan Regional yang rutin seperti kejuaraan dunia atletik (atletik world cup) kejuaraan tingkat dunia.

Terbentuknya PASI yang merupakan induk organisasi atletik Indonesia, perkembangan olahraga atletik mulai merambah ke seluruh provinsi di Indonesia, termasuk Provinsi Daerah Istimewa Aceh yang sekarang berubah menjadi Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.


Sejarah Perkembangan Atletik di Aceh

Olahraga atletik pada Pemerintah Aceh baru dikenal secara meluas pada tahun 1974, yang ditandai dengan terbentuknya Pengurus Daerah Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (Pengda. PASI) Aceh dibawah prakarsa H. Abdullah Abu Lam-u (Alm), Suewardi Suekirman, H. Hamzah Ibrahim dan Yuswar Raden. 

Setelah terbentuknya Pengda PASI Aceh tersebut, maka guru-guru dan pegawai kantor wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang bergabung dalam pengurus daerah maupun pengurus cabang membentuk susunan kepengurusan Pengda. PASI Aceh yang selanjutnya diresmikan dengan surat keputusan PB. 

PASI tahun 1974. Adapun susunan pengurus diketuai oleh Drs. H. Athahillah, wakil ketua H. Hamzah Ibrahim, ketua bidang organisasi H. Abdullah Banta dan ketua bidang pembinaan Suwardi Soekirman (Bahri, 2000:12).

Perkembangan prestasi atletik di pemerintah Aceh pada awal tahun terbentuknya Pengda. PASI Aceh secara umum belum begitu menggembirakan. 

Tetapi khususnya nomor lempar telah menampakkan hasil yang cukup menggembirakan. Hal ini ditandai dengan prestasi-prestasi yang berhasil diperoleh oleh atlet Aceh di event nasional.

Prestasi atletik di Aceh dimulai setelah empat tahun dibentuknya Pengurus Daerah PASI Aceh, yaitu medali perak lempar lembing putri pada POPNAS tahun 1978 di Jakarta. 

Kemudian pada PORWIL tahun 1979 di Padang atlet lempar lembing putri Pengda. PASI Aceh berhasil merebut medali emas dengan atletnya yang bernama Tati Ratnaningsih. 

Selanjutnya pada Porwil VII di Palembang, nomor lempar lembing putri kembali mempersembahkan medali emas untuk Aceh dan pada Porwil ke VIII di Jambi tahun 1999. 

Atlet lempar lembing putri Aceh yang atas nama Tati Ratnaningsih juga berhasil membawa satu medali emas untuk Aceh. Untuk tingkat kejuaraan PON, lempar lembing baru berhasil menyumbang medali emas untuk Aceh berturut-turut pada PON ke XI, XII dan XIII dengan atlet yang sama yaitu Tati Ratnaningsih, sekaligus merupakan medali emas satu-satunya dalam cabang olahraga atletik pada masing-masing PON tersebut (Bahri, 2000:39).

Prestasi yang telah dicapai dalam cabang atletik khususnya pada nomor lempar tidak terlepas dari sistem pembinaan yang baik, ketekunan dan motivasi yang tinggi dari atlet untuk mengikuti latihan. 

Tetapi dalam beberapa tahun terakhir ini belum ada atlet lempar lembing Aceh yang berhasil menyamai rekor Tati Ratnaningsih pada event-event nasional.

Pembinaan harus terus dilakukan untuk meningkatkan prestasi dalam cabang olahraga atletik. Pembinaan khusus terhadap cabang olahraga atletik diharapkan dapat melahirkan atlet-atlet potensial masa depan dan dapat menyumbangkan medali tidak hanya pada nomor lempar lembing, melainkan nomor-nomor perlombaan atletik lainnya seperti nomor lari, lompat jauh, lompat tinggi, dan lempar cakram.


Posting Komentar untuk "Sejarah Perkembangan Atletik di Aceh"