Rabu, 16 Februari 2022

KEBUTUHAN GIZI ITIK

 KEBUTUHAN GIZI ITIK

 



1.  Kebutuhan Gizi Itik Petelur

 

Telah  banyak  dilakukan  penelitian  tentang  kebutuhan protein dan energi pada itik petelur lokal.  Dari hasil-hasil penelitian tersebut,  SINURAT (2000) menyusun rekomendasi kebutuhan gizi itik petelur pada berbagai umur. Rekomendasi yang tersedia saat ini dikelompokkan  berdasarkan umur yaitu : pakan starter untuk itik berumur 0-8 minggu, pakan grower untuk itik berumur 9-20 minggu, dan pakan petelur untuk itik berumur lebih dari 20 minggu (Tabel 3).

Tabel 3. Kebutuhan gizi itik petelur pada berbagai umur

Gizi

Starter

(0-8 minggu)

Grower (9-20 minggu)

Layer (>20 minggu)

Protein kasar (%)

17-20

15-18

17-19

Energi ( kkal

EM/kg)

3.100

2.700

2.700

Metionin (%)

0,37

0,29

0,37

Lisin (%)

1,05

0,74

1,05

Ca (%)

0,6-1,0

0,6-1,0

2,90-3,25

P tersedia (%)

0,6

0,6

0,6

*Sumber: SINURAT (2000)

 

SINURAT et al. (1992) melaporkan kebutuhan  asam amino pada berbagai tingkat energi pakan seperti tertera pada Tabel 4


Tabel 4. Kebutuhan asam amino pada dua tingkat energi pakan

 

 

 

Asam Amino

Energi pakan (kkal EM/kg)

2.700

3.100

2,75g

(Lisin/kkal EM)

3,25 g

(Lisin/kkal EM)

3,25 g

(Lisin/kkal EM)

Lisin

0,74

0,88

1,05

Metionin

0,29

0,33

0,37

Sistin

0,24

0,29

0,33

Arginin

0,93

1,04

1,22

Leusin

1,21

1,46

1,76

Isoleusin

0,60

0,74

0,89

Fenilalanin

0,66

0,80

0,95

Treonin

0,52

0,63

0,74

Triptofan

0,19

0,21

0,24

Valin

0,68

0,79

0,90

Sumber: SINURAT et al. (1992)

 

Karena informasi kebutuhan gizi untuk itik petelur masih terbatas serta bahan baku yang tersedia bervariasi dari daerah ke daerah maka formula pakan juga  ternyata bervariasi dari  satu peternak ke peternak lain bergantung dari pengetahuan peternak akan nutrisi itik dan juga bergantung dari  tingkat    ketersediaan bahan baku pakan didaerahnya masing–masing. Misalnya NAWARE dan ARDI (1979)  menggunakan dua jenis formula yang berbeda yaitu formula 1 dan formula 2 (Tabel 5) bergantung ketersediaan dan harga bahan pakan  didaerah tersebut. Dengan menggunakan data kandungan gizi pakan yang dilaporkan oleh SUTARTI et al. (1976) maka perhitungan kandungan protein kasar pakan formula

1 dan formula 2 yang dilaporkan oleh NAWARE  dan ARDI (1979)

 

masing-masing 20,07% dan 16,20%.

Tabel 5. Contoh formula pakan itik petelur dari berbagai sumber

 

 

NO.

 

BAHAN PAKAN

Setioko & Rohaeni,

2001

Naware & Ardi 1, 1979

Naware & Ardi 2,

1979

Yusin *

2000

1

Dedak padi

35,30

3,00

40,00

6,00

2

Padi

5,17

0,25

-

-

3

Menir

-

-

-

4,00

4

Jagung

-

-

40,00

-

5

Sagu

11,08

-

-

-

6

Bungkil kelapa

-

1,00

-

-

7

Konsentrat  (Protein kasar=37%)

0,44

-

20,00

-

8

Ikan kering

17,73

1,50

-

-

9

Ikan Petek basah

-

-

-

8,00

10

Keong

-

1,50

-

-

11

BP-24

19,20

-

-

-

12

Mineral        komplit untuk itik petelur

1,11

-

-

-

13

Grit

1,11

-

-

-

14

Ganggang

8,86

-

-

-

15

Total

100,00

7,25

100,00

18,00

16

Protein kasar

(bahan kering)

20,20

20,07

16,20

14,66

17

Energi kkal EM/kg

2.250

TD

TD

2911

*Diberikan untuk 90 ekor itik/hari (KETAREN dan PRASETYO, 2000).

TD = Tidak Dihitung. BP-24=Pakan komersial itik petelur (18% protein kasar).

 

Begitu pula formula pakan untuk itik petelur Alabio yang digunakan oleh SETIOKO dan ROHAENI (2001) yang tertera pada Tabel 5,  menggunakan ganggang dan grit yang tersedia dilokasi sebagai sumber mineral tambahan. Dari Tabel 5 terlihat bahwa kandungan protein yaitu 20,20 % sudah melebihi kebutuhan, tetapi kandungan  energinya terlalu  rendah,  bila  dibandingkan dengan kebutuhan protein dan energi pada Tabel 3.

Contoh lain adalah MAHMUDI (2001) yang   memberikan pakan starter ayam untuk itik petelur umur 1-7 hari. Kemudian itik


umur 1-3 minggu diberi pakan dengan campuran 75% dedak halus, bekatul, menir, limbah roti atau beras rusak dan ditambah 25% pakan   konsentrat. Setelah umur 4 minggu atau lebih, rasio campuran  dari  bahan  diatas  dirubah  sesuai  dengan  umur  itik dengan ketentuan: protein dan energi diturunkan pada fase pertumbuhan dan dinaikkan kembali pada fase bertelur. Tidak dilaporkan informasi tentang rasio campuran pakan untuk berbagai umur itik tersebut.   Yusin, peternak itik petelur di Cirebon menggunakan dedak, menir dan ikan petek/rucah basah sebagai pakan utama untuk itiknya. Ikan petek pada musim panen banyak tersedia  dengan  harga  bersaing  di  Cirebon.  Ikan  ini  dicincang dalam bentuk segar lalu diberikan pada itik. Total pakan sebanyak

18 kg tersebut diatas diberikan untuk   90 ekor itik petelur/hari. Hasil analisa proksimat sampel pakan tersebut dalam bentuk kering di laboratorium menunjukkan bahwa kandungan protein kasar sebanyak 14,66%, energi  kasar 4015 kkal/kg  (atau setara dengan

2911 Kkal EM/kg), serat kasar 8,85%, Ca 0,31% dan P 1,12% (KETAREN dan PRASETYO, 2000). Jika dibandingkan dengan rekomendasi kebutuhan gizi untuk itik petelur seperti tertera pada Tabel 3 diatas maka hasil analisa proksimat sampel pakan peternak Cirebon diatas ternyata kandungan protein kasar dan Ca masih jauh lebih rendah dari rekomendasi atau dengan kata lain harus ditingkatkan kadarnya, misalnya dengan menambah jumlah ikan petek dan kulit kerang atau kapur ke dalam pakan.


2.  Kebutuhan gizi itik Pekin

 

Sementara belum ada rekomendasi untuk itik tipe dwiguna seperti itik Pekin untuk kondisi Indonesia, kebutuhan gizi untuk itik pedaging dibawah ini yang dikutip dari rekomendasi  NRC (1994) untuk itik Pekin (Tabel 6) dapat digunakan sebagai acuan. Dari Tabel 6 ternyata kebutuhan protein kasar untuk  itik Pekin umur 0

- 2 minggu lebih tinggi dari rekomendasi kebutuhan protein untuk itik petelur  seperti tertera pada Tabel 3 yaitu masing-masing 22 % untuk itik Pekin dan 17-20% untuk itik petelur. Pada Tabel 6, kebutuhan  gizi  untuk  itik  Pekin  dikelompokkan menjadi  starter umur 0-2 minggu, grower 2-7 minggu dan itik bibit.

 

Tabel 6. Kebutuhan gizi itik Pekin pada berbagai umur *

Gizi

Starter

(0-2 minggu)

Grower

(2-7 minggu)

Bibit

Protein kasar (%)

22

16

15

Energi ( kkal

EM/kg)

2.900

3.000

2.900

Metionin (%)

0,40

0,30

0,27

Lisin (%)

0,90

0,65

0,60

Ca (%)

0,65

0,60

2,75

P tersedia (%)

0,40

0,30

-

*NRC, 1994

 

Pada umur 7 minggu itik Pekin diharapkan sudah mencapai bobot badan 2,10 kg ( CHEN, 1996). Itik Pekin mulai di ternakkan di  Indonesia  baik  sebagai  penghasil  bibit    maupun  penghasil daging. Saat ini untuk memenuhi permintaan konsumen, karkas itik Pekin masih diimpor dari luar negeri. Daging itik Pekin sudah


umum disajikan oleh restoran atau hotel-hotel di kota besar seperti Jakarta.  Daging itik jantan atau itik afkir banyak disediakan oleh rumah makan yang lebih kecil.

 

3.  Kebutuhan Gizi Itik Serati.

 

Teknologi   produksi itik Serati terus dikembangkan oleh Balai Penelitian Ternak dengan menyilangkan entog dengan itik lokal. Hasil penelitian tersebut sedang diujicobakan   disalah satu peternak di Sawangan. Kebutuhan gizi untuk itik Serati yan baru mulai dikenal dan dikembangkan di Indonesia sebagai itik pedaging juga belum tersedia. Walaupun demikian untuk sementara waktu, dapat dipergunakan rekomendasi yang dibuat oleh  CHEN (1996) yang  digunakan di Taiwan negara yang memproduksi dan umum mengkonsumsi daging itik Serati, seperti pada Tabel 7.

Dari Tabel 7  ternyata kebutuhan protein untuk itik Serati baik pada umur 0-3 minggu maupun untuk   umur 4-10 minggu jauh lebih rendah dibanding kebutuhan protein   untuk itik Pekin yaitu masing-masing 15,4 18,7% sementara  16- 22% untuk itik Pekin. Kebutuhan protein yang rendah pada itik Serati berpeluang untuk menyusun formula pakan yang murah dibanding itik Pekin.


Tabel 7. Kebutuhan gizi itik Serati dari umur 1-10 minggu *

Gizi

Starter

(0-3 minggu)

Grower

(4-10 minggu)

Protein kasar (%)

18,7

15,4

Energi ( kkal EM/kg)

2.900

2.900

Metionin + Sistin (%)

0,69

0,57

Lisin (%)

1,10

0,90

Ca (%)

0,72

0,72

P tersedia (%)

0,42

0,36

* CHEN, 1996

 

Contoh formula pakan untuk itik Serati yang digunakan di Taiwan pada umur 0-3 dan 4-10 minggu tertera pada Tabel 8. Dari Tabel tersebut   terlihat bahwa kandungan protein dalam pakan jauh  lebih  rendah  daripada  kandungan  protein  untuk  ayam pedaging  yaitu  23%  dan  20%  masing-masing  untuk  ayam pedaging umur 0-3 dan 4-6 minggu (NRC. 1994).

 

Tabel 8. Contoh formula pakan untuk itik Serati *

 

NO

BAHAN PAKAN

0-3 MINGGU (%)

4-10 MINGGU (%)

1

Jagung

57,10

69,20

2

Bungkil Kedelai

22,80

15,00

3

Dedak gandum (Polar)

4,00

9,00

4

Tepung ikan (65%)

4,00

3,00

5

Minyak

3,40

0,50

6

Garam

0,40

0,40

7

Kapur

1,10

1,00

8

DCP

1,20

1,20

9

Premix

0,50

0,50

10

Cholin (50%)

0,10

0,10

11

Metionin

0,10

0,10

12

Lisin

0,10

0,10

 

Kandungan gizi (perhitungan)

 

 

13

Protein (%)

18,74

15,50

14

Energi (kkal EM/kg)

2908

2902

15

Ca

0,90

0,90

16

P tersedia

0,37

0,37

17

Metionin + Sistin

0,69

0,57

18

Lisin

1,13

0,88

* CHEN, 1996


Efisiensi penggunaan pakan itik jantan sebesar  3,53 –5,27 dengan pertambahan bobot badan   1215-1229 g   pada umur 8 minggu (SINURAT., 1996; PRASETYO dan SUSANTI, 1997; dan BINTANG et al., 1999).         Bobot      badan      dan      efisiensi penggunaan  pakan  (FCR)  itik  Serati  umur  8  minggu  hasil persilangan itik Alabio dengan Entog  masing-masing 1500 g dan

3,6 (SETIOKO dan ROHAENI., 2001, komunikasi pribadi).

 

4. Kebutuhan Air Untuk Itik

 

Air adalah gizi yang sangat penting bagi seluruh jenis ternak (LEESON AND SUMMERS, 1991). Misalnya, ayam tanpa air minum akan lebih menderita dan bahkan lebih cepat mati dibanding  ayam tanpa pakan. Sebagai contoh, sekitar 58 % dari tubuh ayam dan

66%  dari  telur  adalah  air  (  ESMAIL,  1996).  Mutu  air  sering diabaikan oleh peternak karena kenyataan yang mereka lihat yaitu itik mencari makan dan minum ditempat kotor seperti kali, sawah atau bahkan di selokan. Air  juga  dapat berfungsi sebagai sumber berbagai mineral seperti Na, Mg dan Sulfur. Oleh karena itu, mutu air akan menentukan tingkat kesehatan ternak itik. Air yang sesuai untuk konsumsi manusia pasti juga sesuai untuk konsumsi itik. Air harus  bersih,  sejuk   dengan  pH   antara  5-7,   tidak   berbau, tawar/tidak asin dan tidak mengandung racun. Jumlah kebutuhan air untuk unggas secara umum termasuk ternak itik diperkirakan sebanyak 2 kali dari kebutuhan pakan/ekor/hari. ESMAIL (1996) mengestimasi bahwa konsumsi air untuk ayam akan meningkat


sebanyak 7% setiap kenaikan temperatur  udara lingkungan 1 0  C

 

diatas 21 0 C.

 

Kandungan maksimum Ca, Mg, Fe, Nitrit dan Sulfur dalam air minum unggas masing-masing berturut-turut 75, 200, 0,3-0,5, 0 dan 25 mg/liter. Kelebihan mineral tersebut dalam air akan mempengaruhi penampilan unggas termasuk itik yaitu gangguan pencernaan.

 

5.  Bahan Pakan Itik

 



Bahan pakan yang digunakan untuk ternak itik sebaiknya murah, tidak beracun, tidak asin,  kering, tidak berjamur, tidak busuk/bau/apek,   tida menggumpal,   muda diperoleh   dan palatable (KETAREN, 2001 dan  2001b).  Kandungan  gizi  bahan pakan yang umum dipakai untuk itik tertera pada Tabel 9. Seperti terlihat pada Tabel 9, sumber energi utama adalah: menir, jagung, tepung  ubi  kayu  dan  tepung  sagu,  sedangkan  sumber  protein utama adalah tepung ikan dan bungkil kedelai.


Pengikut

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *