Langsung ke konten utama

PERBAIKAN PEMBIBITAN KOPI MELALUI INTRODUKSI VARIETAS, PUPUK CAIR DAN NAUNGAN

PERBAIKAN PEMBIBITAN KOPI MELALUI INTRODUKSI VARIETAS, PUPUK CAIR DAN NAUNGAN
Oleh: Yufniati ZA, Rahman Jaya, Rini Andriani Kopi merupakan salah satu komoditas ekspor penting yang diharapkan mampu memberikan nilai tambah penerimaan devisa baik bagi negara pada umumnya maupun untuk daerah sentra produksi khususnya. Perkebunan kopi di Indonesia didominasi oleh perkebunan rakyat dengan total areal 1,06 juta ha atau 94,14%, sementara areal perkebunan besar negara 39,3 ribu ha (3,48%) dan perkebunan besar swasta 26,8 ribu ha (2,38%). Areal perkebunan rakyat tersebut dikelola oleh sekitar 2,12 juta kepala keluarga petani (Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan, 2004). Menurut International Coffee Organization (ICO) tahun 2004, Indonesia merupakan negara penghasil kopi terbesar keempat di dunia dengan kontribusi sebesar 60% produksi kopi dunia. Provinsi Aceh merupakan daerah penghasil kopi Arabika terbesar di Indonesia dengan pusat pengembangannya terletak di dataran tinggi Gayo yaitu di Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah yang keseluruhannya merupakan usaha perkebunan rakyat. Pada tahun 2009 luas perkebunan rakyat di dataran tinggi Gayo adalah 87.492 ha dengan rincian 48.001 ha di Kabupaten Aceh Tengah dan 39.491 ha berada di Kabupaten Bener Meriah (Dinas Perkebunan dan Kehutanan Provinsi NAD, 2009). Akan tetapi dari luasan areal perkebunan rakyat tersebut produksi yang dihasilkan hanya berkisar ±27.444 ton dengan tingkat produktivitas per hektarnya ±718 kg/tahun. Tingkat produksi dan produktivitas tersebut masih relatif rendah jika dibandingkan dengan produktivitas kopi Arabika nasional yang mencapai ±85.236 kg/tahun. Pembibitan merupakan tahapan yang sangat penting dalam budidaya tanaman kopi karena akan menentukan kemampuan hidup tanaman pada tahap selanjutnya di lapangan. Bibit yang bermutu merupakan hasil interaksi tanaman dan faktor lingkungan. Rendahnya produktivitas kopi Arabika di dataran tinggi Gayo disebabkan oleh belum diterapkannya teknologi budidaya secara benar, sehingga berpengaruh besar terhadap hasil produksi. Karena itu, upaya peningkatan produktivitas, mutu dan citarasa melalui varietas–varietas unggulan terus ditingkatkan. Kebutuhan bibit bermutu dirasakan menjadi salah satu masalah dalam peremajaan dan pengembangan kebun petani. Keadaan ini dirasakan petani kopi di sentra produksi kopi Arabika di dataran tinggi Gayo yang merupakan sentra produksi kopi Arabika di Provinsi Aceh. Untuk itu perbaikan teknologi budidaya melalui pembibitan harus dilakukan dengan tepat sehingga mampu menghasilkan bibit kopi varietas unggul bermutu sesuai dengan syarat teknis pembibitan. Pertumbuhan Tanaman Pengamatan pertumbuhan tanaman mencakup tinggi tanaman, diameter batang dan jumlah pasang daun dilakukan pada umur 1 BSP, 3 BSP dan 6 BSP. Tanaman dengan perlakuan naungan 20%, 40% dan 60% dan pupuk cair 2,5 ml, 5ml dan 7,5 ml/1 liter air yang lebih tinggi pada varietas Timtim dan Borbor bila dibandingkan dengan varietas P 88, meskipun secara statistik tidak berbeda nyata (1,2, dan 3). Dari tiga varietas yang diuji, diketahui bahwa varietas Timtim dan Borbor dapat menampilkan tinggi tanaman lebih tinggi dan diameter batang lebih lebar dibanding dengan varietas P 88. Jumlah pasang daun setiap bulan bertambah sepasang daun, pada umur 6 BSP tanaman kopi mempunyai 6 pasang daun. Penambahan jumlah pasang daun dikarenakan oleh sifat genetik dari tanaman kopi kedua varietas. Masing-masing jenis tanaman kopi tumbuh sesuai dengan karakteristik genetiknya. Hal ini sesuai dengan pendapat Sumiarsi dan Priyadi (2003), yang menyatakan bahwa pertumbuhan awal sangat dipengaruhi oleh kondisi bibit di samping faktor genetik. Tabel 1.Rata-rata Tinggi tanaman (cm) 3 varietas kopi dengan penggunaan naungan dan pupuk cair di lahan Kebun Percobaan Pondok Gajah Gayo, Kecamatan Bandar Kabupaten Bener Meriah tahun 2013. Varietas/ Pupuk N1 N2 N3 1 BSP 3 BSP 6 BSP 1 BSP 3 BSP 6 BSP 1 BSP 3 BSP 6 BSP V1 17,25 52,66 90,24 17,96 55,62 118,57 16,98 54,32 115,23 V2 20,83 67,89 122,33 21,24 64,41 124,77 21,04 65,3 122,65 V3 22,19 71,87 126,69 22,48 63,96 124,93 22,73 64,13 123,63 Rata-rata varietas 20,09a 64,14b 113c 20,56a 61,33b 122c 20,25a 61,25b 120c Keterangan : Angka-angka sejajar yang diikuti huruf sama berbeda nyata pada taraf 0,05 Tukey. Selanjutnya salah satu parameter pertumbuhan bibit kopi yang diamati adalah diameter batang, secara lebih lengkap dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2. Rata-rata Diameter batang (mm) 3 varietas kopi dengan penggunaan naungan dan pupuk cair di lahan Kebun Percobaan Pondok Gajah Gayo, Kecamatan Bandar Kabupaten Bener Meriah tahun 2013. Varietas/ Pupuk N1 N2 N3 1 BSP 3 BSP 6 BSP 1 BSP 3 BSP 6 BSP 1 BSP 3 BSP 6 BSP V1 3 3.09 3,18 3,06 3,15 3,24 3,03 3,12 3,21 V2 3 3.06 3,12 3,03 3,09 3,15 3 3,06 3,12 V3 3 3.06 3,12 3,03 3,09 3,15 3 3,06 3,12 Rata-rata varietas 3a 3.07b 3,14c 3,04a 3,11b 3,18c 3,01a 3,08b 3,15c Keterangan : Angka-angka sejajar yang diikuti huruf sama berbeda nyata pada taraf 0,05 Tukey Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa secara bersama pupuk dan kombinasi naungan memberikan respon yang sama terhadap diameter batang tanaman pada seluruh varietas. Penambahan diameter batang dari umur 30 HSP ke 60 HSP hanya berkisar 0,01 mm. Analisis kelayakan perlu dilakukan untuk melihat apakah usaha yang dilakukan layak atau tidak untuk dikembangkan. Hasil pengkajian didapat R/C Rationya adalah 1,82 dengan harga kopi ditingkat petani sebesar Rp. 1.100. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Secara umum pertumbuhan bibit kopi arabika dari ketiga varietas, perlakuan pupuk dan naungan terlihat baik. Pertumbuhan paling tinggi terlihat pada varietas P 88 dengan naungan 75%. 2. Terjadi interaksi antara varietas, dosis pupuk, dan naungan terhadap tinggi tanaman, diameter batang, dan jumlah daun. Saran 1. Untuk kesinambungan data yang telah diperoleh, perlu kegiatan lanjutan pada masa yang akan datang agar bibit yang ada di lapangan untuk dilihat tingkat produktivitas masing-masing perlakuan. 1. Diharapkan bibit varietas P-88 yang telah dihasilkan dari pengkajian ini dapat disalurkan kepada petani untuk dikembangkan di Dataran Tinggi Gayo. DAFTAR PUSTAKA AEKI, 1997. Statistik Kopi. Jakarta. Darmawijaya, I, 1975. Klasifikasi Tanah Kopi. Komisi teknis Perkebunan V. Budidaya Kopi-Coklat. Tretes. Dinas Perkebunan dan Kehutan Provinsi NAD, 2008. Laporan Tahunan. Banda Aceh. Karim, A. 1996b. Hubungan Antara Elevasi dan Lereng dengan Produksi Kopi Arabika Catimor di Aceh Tengah. Jurnal Penelitian Pertanian, Fakultas Pertanian, UISU, Medan. Karim, A dan Darusman. 1997a. Potensi Bahan Baku Pupuk Organik Sumber Lokal pada Perkebunan Kopi Organik di Aceh Tengah. Makalah Disajikan pada Seminar Bulanan Fakultas Pertanian Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh, 22 September 1997. Nur, A.M, 1992, Pemangkasan Tanaman Kopi. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Jawa Timur. Nur, A.M, 1996. Aspek Agronomi Diversifikasi Kopi Arabika dengan Tanaman Jeruk Keprok Gayo di Aceh Tengah. Renes, H. 1989. Arabika Coffee in Aceh Tengah, Projek PPW-LTA 77- Canard/a. Small Holder Coffeee Development in Aceh Tengah, Consultan Report An Aplloed Arabika Coffee Research, May 1985 – Juni 1989. RetnoHulupi. 2008. Bahan Tanam Kopi Arabika Anjuran Nasional yang Sesuai Untuk Dataran Tinggi Gayo. Panduan Budidaya dan Pengolahan Kopi Arabika Gayo. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. Jakarta. Sarief, E S. 1989. Kesuburan dan Pemupukan tanah Pertanian. Pustaka Buana. Bandung. 197 hal. Sitompul, S. M. Dan B. Guritno. 1995. Analisis pertumbuhan tanaman. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Soekadar Wiryadiputra, 2008. Hama-hama Utama pada Kopi Arabika. Panduan Budidaya dan Pengolahan Kopi Arabika Gayo.Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. Jakarta. Soepardi, G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 217 hal. Sofyan Souri, 2001. Penggunaan Pupuk Kandang Meningkatkan Produksi Padi. Folder ARMP. Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian Mataram. Mataram. Sumiarsi, N dan D. Priyadi. 2003. Interaksi antara Variasi Konsentrasi Hormon dan Interaksi Penyinaran Matahari pada Pertumbuhan Biji Serdang, Agrista 7 (3): 255-258. Winaryo, 2003. Standart dan Sertifikasi Perkebunan Organik. Makalah Disampaikan pada Ekspose Teknologi PHT di Jogya. Winaryo, Usmandan S. Mawardi. 1994. Pengaruh Komposisi Bahan Baku dan Lama Pengomposan Terhadap Kualiatas Kompos. Laporan Penelitian. Proyek Penelitian Kopi Arabika, Balai Penelitian Kopi Gayo, Pondok Gajah, Aceh Tengah.

Postingan populer dari blog ini

9 Tempat Kuliner Enak Di Bireuen Yang Bikin Ketagihan

Bireuen adalah salah satu daerah yang ada di pertengahan antara Banda Aceh dan Medan,  Bireuen sendiri merupakan nama sebuah kota yang ada di Provinsi Aceh, Indonesia, termasuk salah satu diantara kota terbesar yang ada di Aceh.  Dikutip dari wikipedia Kota Bireuen dulunya juga di lintasi oleh jalur kereta Api dari Banda Aceh - Medan. Kota Bireuen meliputi kecamatan Kota Juang, kecamatan Kuala, kecamatan Jeumpa dan kecamatan Juli. Jika anda berkunjung ke kota bireuen namun bingung ingin makan apa? ngga usah sedih. pada postingan kali melykuliner akan mengupas 9 Tempat Makan Enak yang wajib anda coba jika berkunjung ke Bireuen.  9 Daftar Tempat Makan Enak Di Bireuen Berikut ini beberapa daftar tempat makanan yang enak yang ada di Bireuen yang telah melykuliner rangkum sebagai berikut: 1. Sate Apaleh Geurugok Sate apaleh Geurugok merupakan tempat makan paling terkenal di Bireuen. kalau anda ke bireuen anda mesti mencoba makanan yang satu ini. Alamat: Jln. Lintas, Jl. Medan - Banda Aceh,

Pengertian Minat dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Minat

Minat adalah kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Minat tidak termasuk istilah populer dalam psikologi karena ketergantungannya yang banyak pada faktor-faktor internal lainnya seperti: pemusatan perhatian, keingintahuan, motivasi, dan kebutuhan. Namun, terlepas dari masalah populer atau tidak, minat seperti yang dipahami dan dipakai oleh orang selama ini dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar  dalam bidang-bidang studi tertentu. Penulis menyimpulkan bahwa minat merupakan dorongan yang terlahir akibat suatu rangsangan ketertarikan pada sesuatu, yang sangat disenangi dan membuat diri kita bangga akan hal itu baik itu pekerjaan, kegiatan olahraga dan objek apa saja yang nyaman dan digemari. Pengertian Minat Menurut Pendapat Ahli Menurut Mapiare (1982:62) “minat adalah suatu perangkat mental yang terdiri dari suatu campuran dari perasaan, harapan, pengertian, prasangka atau kecenderungan lain yang mengarahkan individu kepada pil

Pengertian dan Prinsip Penyusunan Materi Pembelajaran

Materi pembelajaran mempunyai kedudukan penting terhadap tercapainya tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Materi pembelajaran menempati posisi yang sangat penting dari keseluruhan kurikulum, yang harus dipersiapkan agar pelaksanaan pembelajaran dapat mencapai sasaran yang sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Guru atau pendidik harus mampu menyusun atau merumuskan materi pembelajaran yang sesuai dengan prinsip-prinsip penyusuran materi pembelajaran itu sendiri..Pada kesempatan kali ini penulis akan membahas tentang pengertian dan juga prinsip-prinsip penyusunan materi pembelajaran. Pengertian Materi Pembelajaran Materi pembelajaran merupakan bahan yang diperlukan untuk pembentukan pengetahuan keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai peserta didik dalam rangka memenuhi standar kompetensi. Menurut National Center for Vocational Education Research Ltd ada tiga pengertian materi pembelajaran yaitu: 1) merupakan informasi, alat dan teks yang dip